Jakarta, 15 November 2008
Nomor : 05/TT/PS/MRD/XI/2008
Lamp. : 1 Berkas
Hal : Permohonan Pembayaran
Kepada Yth.
PT. PLN (Persero) DISTRIBUSI
JAKARTA RAYA DAN TANGERANG
APL. MARUNDA
Jln. Bhayangkara No. 10-11A
Jakarta Utara
Dengan hormat,
Sesuai dengan kontrak perjanjian kerja :
Nomor SPK : 016.b..SPK/041/APL.MRD/2008
Tanggal : 01 September 2008
Pekerjaan : Pemborongan Jasa Pekerjaan Pemutusan Sementara Penyaluran Tenaga
Listrik dan Penyambungan Kembali
Lokasi : AP. MARUNDA
Periode : Oktober 2008
Dengan selesainya pekerjaan tersebut di atas, kami mengajukan pembayaran 100% dari nilai pekerjaan yaitu sebesar Rp 5.197.500,- (Lima juta seratus sembilan puluh tujuh ribu lima ratus rupiah)
Mohon pembayaran dilakukan secara tunai atau transfer ke rekening :
Atas nama : PT. TANGGUAK TEKATAMA
No. Rekening : 5000806228
Pada : BANK PEMBANGUNAN DAERAH DKI
KANTOR CABANG MATRAMAN JAKARTA TIMUR
Demikian permohonan pembayaran ini kami sampaikan, atas kerjasama dan perhatiannya kami ucapkan terimakasih.
Hormat kami,
Amri Johan, B. Sc
Direktur
Selasa, 18 November 2008
My Unforgettable Journey
The school is over, I met my friend Made. Made lived near my house, so I could went home together with him.We decided went home by train. Before went home, we bought some foods and ate it at the canteen. Next, Made and I went to Gondangdia Railway Station on foot. It was the first time I went home by train, usually I went home by bus. In my country, train is one of cheap tronsportation, but it has a lot of weaknesses, like : dirty, crowded, and not on time. So, I rarely use the train. Then, I bought two tickets to Jakarta Kota Railway Station for two thousand rupiah. We waited the train for twenty minutes. We walked around the station and talked about the school activities. The train came, Made and I entered the train. Only fifteen minutes we sat in the train, then we arrived at Jakarta Kota. After we arrived, we bought two tickets again to Bekasi, our next destination. The train would come for one hour later. We decided to visited Mangga Dua to kill the time. We bought some accessories for a low price. Made was a good bargaining. Then we went back to the station. We arrived at the station on time, but the train didn’t come. After waiting for ten minutes, the train came, and then we entered the train. We sat in the next of the door, so we could go down easily. From the window, I saw some peoples who was running to catch the train. I wondered that they just went home from working. Some of them stood in the train because there were not place to sit. The train then departed with low speed, and made this journey became so long. In the train, there are a lot of vendors who walked from the place to another place. they sold drink, snack, meals, fruits, stationery, toys, and many more. I bought a newspaper only for one thousand rupiah. Besides it, Made bought some pens and funny accessories for low price. I thought he would give it to his girlfriend. Among the vendors, there are some childs who became road-singers to get some money. I saw they did their job happily, to help their parents or to pay the school fee. Along the journey, I saw a lot of houses which was bulit around the railway. It was the suburb area in Jakarta. The train became crowded in Senen and Jatinegara. We decide to stand to give other people to sit. After thirty minutes, the train arrived at Kranji Railway Station. Made and I went down from the train. Then we went to our home. Made walked and I stop the bus. I arrived at home two hours after the school over, a long time journey. But from the journey, I learned how to thank God for the thing that I have now. Things that I have now are only God’s gifts. Besides it, I will study harder to reach my dream and help other people around me.
ARAHAN PEMUTARAN DAN DISKUSI SETELAH PEMUTARAN 9808 ANTOLOGI 10 TAHUN REFORMASI
I LATAR BELAKANG: “9808” DAN PROYEK PAYUNG
“9808” adalah antologi 10 film pendek hasil arahan 10 sutradara (Anggun Priambodo, Ariani Darmawan, Edwin, Hafiz, Ifa Isfansyah, Lucky Kuswandi, Otty Widasari, Steve Pilar Setiabudi, Ucu Agustin, Wisnu Sp) dan disiapkan bersama oleh sejumlah pekerja film/seni/kreatif/musisi lainnya untuk menghormati perayaan tahun kesepuluh reformasi Indonesia. Proyek ini digagas oleh Prima Rusdi (penulis skenario/penulis), Edwin (sutradara), Hafiz (seniman visual).
Untuk kemudahan administrasi kelompok ini menyebut diri mereka sebagai Proyek Payung (meski bukan merupakan organisasi yang resmi/terstruktur). Mereka yang tergabung di dalam ‘proyek’ ini bekerja secara swadaya.
Tujuan dari pemutaran “9808” adalah membuka diskusi dengan publik terutama kalangan pelajar dan mahasiswa dalam koridor pemberdayaan publik karena medium film sebetulnya juga bisa digunakan untuk menyuarakan ‘narasi kecil’ atau pendapat serta signifikansi peran ‘orang biasa’ yang kerap diabaikan, meski acap kali justru dimanipulasi/diatas-namakan oleh kekuasaan. Selain itu, pemutaran dan diskusi setelah pemutaran “9808” diharapkan bisa menjadi sarana perlawanan terhadap kebiasaan untuk melupakan sejarah.
Sejak diluncurkannya “9808” (Kineforum, Jakarta, 13 Mei 08) hingga saat ini, rangkaian diskusi paska pemutaran yang telah berlangsung di sejumlah tempat (hasil dari diskusi bisa dilihat di website http://9808films.wordpress.com) membuka dialog yang menarik mengenai beragam isu seperti diskriminasi, korupsi, pendidikan, bahkan kerap menjadi ajang berbagi pengalaman politik/sejarah. Intinya, dari rangkaian diskusi terlihat kebutuhan untuk kembali membicarakan hal-hal/isu-isu penting yang sering ‘dilupakan’ karena perspektif sejarah lebih sering disampaikan melalui versi kekuasaan.
Mengacu pada pemikiran di atas, Proyek Payung menganggap pentingnya untuk melanjutkan kegiatan diskusi sejumlah 1 (satu) kali usai pemutaran “9808” di manapun ia diputar, dengan tujuan membuka dialog soal pentingnya ‘melawan lupa’.
II PANDUAN DISKUSI PASKA PEMUTARAN “9808”
Siapa khalayak sasaran pemutaran/diskusi “9808”?
(1) Pelajar SMU
(2) Mahasiswa
(3) Umum
Siapa yang diharapkan menjadi rekanan penyelenggara pemutaran/diskusi “9808”?
(1) Kalangan/individu yang memiliki keperdulian pada pentingnya pemberdayaan massa,
(2) Memahami dan memiliki akses untuk menjangkau target/sasaran utama pemutaran yang beragam bukan dari satu kelompok saja, atau bisa memberikan rasionalisasi mengenai pentingnya pemutaran/diskusi di luar target utama, dan memahami bahwa arahan diskusi yang ditargetkan untuk dicapai bukanlah DISKUSI FILM.
(3) PENTING!
• Menyanggupi untuk memberikan tulisan untuk dimuat di website minimal 1 minggu sebelum pemutaran berlangsung, dengan tema yang relevan dengan isu melawan lupa (bukan review film),
• Menyanggupi untuk membuat rekapitulasi/laporan hasil diskusi dan mengirimkannya via e-mail ke alamat ke minimal 1 minggu setelah acara berlangsung,
(4) Tidak memiliki kepentingan komersial dan menyanggupi untuk mengadakan kegiatan tersebut tanpa melibatkan sponsor/mencantumkan logo lembaga, pihak-pihak lain (apalagi) dengan tidak mengonsultasikannya terlebih dahulu dengan Proyek Payung.
Proyek Payung akan memprioritaskan tawaran dari kota di mana pemutaran/diskusi belum pernah diselenggarakan.
Permintaan pemutaran berikut diskusi bisa diajukan melalui e-mail ke
“9808” adalah antologi 10 film pendek hasil arahan 10 sutradara (Anggun Priambodo, Ariani Darmawan, Edwin, Hafiz, Ifa Isfansyah, Lucky Kuswandi, Otty Widasari, Steve Pilar Setiabudi, Ucu Agustin, Wisnu Sp) dan disiapkan bersama oleh sejumlah pekerja film/seni/kreatif/musisi lainnya untuk menghormati perayaan tahun kesepuluh reformasi Indonesia. Proyek ini digagas oleh Prima Rusdi (penulis skenario/penulis), Edwin (sutradara), Hafiz (seniman visual).
Untuk kemudahan administrasi kelompok ini menyebut diri mereka sebagai Proyek Payung (meski bukan merupakan organisasi yang resmi/terstruktur). Mereka yang tergabung di dalam ‘proyek’ ini bekerja secara swadaya.
Tujuan dari pemutaran “9808” adalah membuka diskusi dengan publik terutama kalangan pelajar dan mahasiswa dalam koridor pemberdayaan publik karena medium film sebetulnya juga bisa digunakan untuk menyuarakan ‘narasi kecil’ atau pendapat serta signifikansi peran ‘orang biasa’ yang kerap diabaikan, meski acap kali justru dimanipulasi/diatas-namakan oleh kekuasaan. Selain itu, pemutaran dan diskusi setelah pemutaran “9808” diharapkan bisa menjadi sarana perlawanan terhadap kebiasaan untuk melupakan sejarah.
Sejak diluncurkannya “9808” (Kineforum, Jakarta, 13 Mei 08) hingga saat ini, rangkaian diskusi paska pemutaran yang telah berlangsung di sejumlah tempat (hasil dari diskusi bisa dilihat di website http://9808films.wordpress.com) membuka dialog yang menarik mengenai beragam isu seperti diskriminasi, korupsi, pendidikan, bahkan kerap menjadi ajang berbagi pengalaman politik/sejarah. Intinya, dari rangkaian diskusi terlihat kebutuhan untuk kembali membicarakan hal-hal/isu-isu penting yang sering ‘dilupakan’ karena perspektif sejarah lebih sering disampaikan melalui versi kekuasaan.
Mengacu pada pemikiran di atas, Proyek Payung menganggap pentingnya untuk melanjutkan kegiatan diskusi sejumlah 1 (satu) kali usai pemutaran “9808” di manapun ia diputar, dengan tujuan membuka dialog soal pentingnya ‘melawan lupa’.
II PANDUAN DISKUSI PASKA PEMUTARAN “9808”
Siapa khalayak sasaran pemutaran/diskusi “9808”?
(1) Pelajar SMU
(2) Mahasiswa
(3) Umum
Siapa yang diharapkan menjadi rekanan penyelenggara pemutaran/diskusi “9808”?
(1) Kalangan/individu yang memiliki keperdulian pada pentingnya pemberdayaan massa,
(2) Memahami dan memiliki akses untuk menjangkau target/sasaran utama pemutaran yang beragam bukan dari satu kelompok saja, atau bisa memberikan rasionalisasi mengenai pentingnya pemutaran/diskusi di luar target utama, dan memahami bahwa arahan diskusi yang ditargetkan untuk dicapai bukanlah DISKUSI FILM.
(3) PENTING!
• Menyanggupi untuk memberikan tulisan untuk dimuat di website minimal 1 minggu sebelum pemutaran berlangsung, dengan tema yang relevan dengan isu melawan lupa (bukan review film),
• Menyanggupi untuk membuat rekapitulasi/laporan hasil diskusi dan mengirimkannya via e-mail ke alamat ke
(4) Tidak memiliki kepentingan komersial dan menyanggupi untuk mengadakan kegiatan tersebut tanpa melibatkan sponsor/mencantumkan logo lembaga, pihak-pihak lain (apalagi) dengan tidak mengonsultasikannya terlebih dahulu dengan Proyek Payung.
Proyek Payung akan memprioritaskan tawaran dari kota di mana pemutaran/diskusi belum pernah diselenggarakan.
Permintaan pemutaran berikut diskusi bisa diajukan melalui e-mail ke
Jambore tahun 2008
Tempalah selagi besi masih panas!
Kalimat bijak tersebut mestinya memberikan inspirasi
kepada pendidik. “Pengalaman yang sama”
tidak singgah kedua kalinya dalam hidup seseorang.
Akhirnya, betapa pendidikan-sosialisasi keutamaan hidup-
bisa hadir serta merta dan tidak boleh berlalu dengan sia-sia,
serta membiarkan kesempatan mendidik
terlewatkan begitu saja tanpa bekas.
Jambore ke 23 tahun ini
Memang merupakan hal yang pertama dan terakhir.
Akan tetapi, hal itu dapat mengasah hti seluruh kita,
mengalami keutamaan hidup
dan merasakan pentingnya hidup bersama
Competence, Conscience, Compassion
Kalimat bijak tersebut mestinya memberikan inspirasi
kepada pendidik. “Pengalaman yang sama”
tidak singgah kedua kalinya dalam hidup seseorang.
Akhirnya, betapa pendidikan-sosialisasi keutamaan hidup-
bisa hadir serta merta dan tidak boleh berlalu dengan sia-sia,
serta membiarkan kesempatan mendidik
terlewatkan begitu saja tanpa bekas.
Jambore ke 23 tahun ini
Memang merupakan hal yang pertama dan terakhir.
Akan tetapi, hal itu dapat mengasah hti seluruh kita,
mengalami keutamaan hidup
dan merasakan pentingnya hidup bersama
Competence, Conscience, Compassion
Jambore pertama dan terakhir
Ini adalah jambore pertama dan terakhir saya dalam belajar di SMA Kanisius. Pekan sosial tahun 2008 ini, saya memilih untuk mengikuti kegiatan jambore dari antara Live In Desa dan Live In Kota. Saya memilih mengikuti Jambore karena saya sudah pernah mengikuti Live In dan mencoba tantangan yang baru. Jambore tahun ini adalah Jambore yang ke dua puluh tiga. Jambore ini diadakan di kawasan Gunung Puntang, Bandung Selatan.
Dari awal sosialisasi Jambore, saya sudah sangat tertarik dan ingin sekali ikut serta di dalamnya. Setelah mendaftarkan diri, saya mengikuti beberapa pertemuan untuk mempersiapkan hal tersebut. Dalam kegiatan Jambore ini, saya tergabung ke dalam kelompok 17. Setelah bertemu dengan teman-teman sekelompok, kami saling berkenalan. Awalnya memang agak aneh, saya tidak mengenal mereka satu pun kecuali Made, teman saya. Kami kemudian membagi tugas untuk membawa barang-barang yang perlu dibawa, juga dengan makanan. Saya cukup beruntung karena tidak perlu membawa banyak barang, saya hanya membawa lampu badai dan terpal. Cukup banyak yang saya harus persiapkan, misalnya carrier dan perlengkapan pribadi lainnya. Namun, saya dapat memperolehnya pada hari Sabtu, 8 November 2008, dan mulai menyusun barang-barang bawaan saya.
Tiba saatnya hari yang ditentukan, tanggal 11 November 2008. Saya diantar oleh ayah sampai ke sekolah. Biasanya saya pergi sendiri, namun banyak yang saya bawa dan ribet, sehingga harus diantar sampai ke sekolah. Ketika saya datang, sudah ada beberapa orang yang menunggu di dalam sekolah. Saya sempat bercakap-cakap dan bersenda gurau dengan mereka. Setelah itu, saya dan anggota kelopok yang lainnya berkumpul dan mulai mengecek barang-barang yang diperlukan. Terasa sekali keakraban yang mulai terbentuk diantara kami dalam kegiatan tersebut. Kami kemudian diberikan sedikit pengarahan oleh panitia dan para guru. Setelah itu, kami mulai membawa barang-barang tersebut ke truk dan masuk ke dalam bus.
Sebentar di dalam bus, saya langsung tertidur lelap. Saya terbangun di daerah Cikampek, karena bus berhenti di tempat peristirahatan. Setelah itu, saya diberikan makan siang. Kami tiba di kawasan Gunung Puntang kira-kira jam 1 siang. Keadaan udara di tempat tersebut dingin, meskipun pada saat tengah hari. Kami kemudian menuju ke wilayah pekemahan dan mengikuti upacara pembukaan. Setelah upacara kami mulai membereskan barang-barang bawaan kami dan mulai mendirikan tenda. Beberapa diantara anggota kelompok kami mulai memasak makanan. Saat-saat mendirikan tenda dan memasak makanan semakin mengakrabkansaya denagn anggota kelompok, dan juga kepada orang lain. Kami makan dengan lahapnya, tiba-tiba hujan turun denagn derasnya. Kami segera memasukkan bahan makanan dan perlengkapan masak ke dalam tenda. Saya pun masuk ke dalam tenda bersama teman saya, Made dan Angga. Keadaan berubah drastis, udara terasa sangat dingin, dan angin berhembus dengan kencangnya.
Kami hanya tiduran di dalam tenda menunggu hujan reda sambil bercakap-cakap. Air hujan mulai masuk ke dalam tenda kami dan membuat panik. Tas dan barang-barang mulai basah. Saya meletakkan ponco atau jas hujan untuk melindunginya, dan itu berhasil. Setelah beberapa lama kemudian, hujan berhenti. Kami membereskan terpal yang ada di luar tenda bersama-sama. Setelah itu, kami menghadiri misa malam sebelum tidur. Kami tidur kurang lebih 3 jam, kemudian seluruh anggota kelompok kami dibangunkan untuk mengikuti jurit malam. Kami disuruh membawa 6 senter dan memakai sandal gunung. Memang tidak hujan lagi, namun keadaan sangat dingin dan angin berhembus dengan cukup kencang. Setelah melewati beberapa rintangan seperti mencari mata, kalung, tangan, dan merefleksikan arti sahabat, kami dapat menyelesaikan jalur jurit malam ini. Saya juga memperoleh pengetahuan mengenai sejarah dari Gunung Puntang ini. Namun ada kejadian yang aneh, dua kelompok sebelum kelompok kami, yaitu kelompok 15 dan kelompok 16 menghilang dan tersesat dari jalur jurit malam. Setelah tiba di lapangan utama kami disuruh untuk berkumpul masing-masing kelompok. Kemudian kami disuruh untuk kembali ke tenda dan tidur. Kelompok yang lain tidak memperoleh giliran untuk jurit malam, karena kejadian tersebut. Kurang lebih jam 1 malam, kelompok 15 dan kelompok 16 tersebut kembali ke basecamp.
Paginya, kelompok kami mulai bergegas untuk melakukan aktivitas. Mulai dari mencuci peralatan masak dan perlengkapan makan. Setelah itu kami mulai memasak lagi, dan makan. Kira-kira jam 9 pagi, acara hiking dimulai. Kelompok saya memperoleh jatah di akhir-akhir. Saya memutuskan untuk tidur dalam tenda untuk mengisi tenaga. Kira-kira jam 11, kelompok kami mulai mengikuti acara hiking. Setelah melewati pos 1, dengan rintangan memindahkan bola serta pos 2 yaitu menebak nama teman dari suaranya, kami terpaksa harus kembali ke basecamp. Ini disebabkan karena jalur hiking menjadi berbahaya akibat hujan yang terjadi sebelumnya. Kami tiba di basecamp kira-kira jam 1 siang. Setelah tiba, kami makan dan beristirahat sebentar untuk kemudian kembali mengikuti hiking dengan jalur yang berbeda. Kali ini, cuaca masih mendung dan hujan rintik-rintik menyertai perjalanan kami. Setelah beberapa lama berjalan, kami kemudian merasakan dinginnya air sungai di Gunung Puntang. Sungainya deras dan banyak batu-batuan besar, namun air sungai tersebut masih terjaga dan sangat bersih. Di perjalanan pulang menuju kemah, saya dan beberapa teman mencoba untuk mandi di sungai. Ini merupakan pengalaman pertama saya, dan saya sangat menikmatinya. Kira-kira jam 5 sore, saya kembali ke tenda dan mulai memasak untuk makan malam. Kami makan malam dengan lahap setelah beraktivitas seharian dan sangat menguras tenaga. Setelah itu, kami berlatih untuk mengisi acara pada api unggun malam harinya. Kelompok kami mendapatkan kesempatan untuk dance. Setelah berdiskusi, kami setuju untuk membawakan tari kecak.
Pada saat api unggun, keadaan sangat dingin. Banyak acara yang ditampilkan oleh kelompok lain dan sangat menghibur. Ketika saatnya saya pentas, saya dapat mengikutinya dengan baik. Setelah itu, kami menyaksikan drama mengenai sejarah Gunung Puntang yang dibawakan oleh beberapa anak yang terpilih sebelumnya. Setelah itu, acara api unggun pun berakhir, kami kembali ke tenda masing-masing untuk tidur.
Esok paginya, kami kembali melaksanakan aktivitas kami seperti hari-hari sebelumnya. Mencuci peralatan masak dan memasak makanan serta makan mejadi kegiatan kami selanjutnya. Hari ini sudah tidak ada kegiatan lagi, saya merapikan barang-barang bawaan dan tenda. Saya juga membersihkan lingkungan di sekitar tenda dan kawasan Gunung Puntang dalam kegiatan bersih gunung.
Saya dan anggota kelompok lainnya membawa barang-barang kami ke lapangan utama. Kami mengikuti upacara penutupan yang dilaksanakan untuk menutup Jamore ke 23 ini. Perasaan saya cukup sedih karena harus meninggalkan daerah Gunung Puntang yang sekaligus mengakhiri pengalaman saya, namun di sisi lain saya senang karena daat kembali bertemu orang tua dan melanjutkan kegiatan saya biasanya. Kami semua masuk ke dalam bus kira-kira jam 12 dan kembali ke Jakarta. Kami tiba di Kanisius jam setengah 5 sore. Di perjalanan, kami sempat mampir di Purwakarta untuk membeli oleh-oleh. Setelah menurunkan barang-barang bawaan saya, saya kemudian menunggu ayah saya di dalam sekolah, saya duduk di tribun lapangan sepakbola. Kemudian, ayah saya datang jam 6, dan saya pulang kembali ke rumah.
Jambore ini tak akan pernah saya lupakan, dan akan menjadi teladan bagi hidup saya menuju hari yang lebih baik.
Dari awal sosialisasi Jambore, saya sudah sangat tertarik dan ingin sekali ikut serta di dalamnya. Setelah mendaftarkan diri, saya mengikuti beberapa pertemuan untuk mempersiapkan hal tersebut. Dalam kegiatan Jambore ini, saya tergabung ke dalam kelompok 17. Setelah bertemu dengan teman-teman sekelompok, kami saling berkenalan. Awalnya memang agak aneh, saya tidak mengenal mereka satu pun kecuali Made, teman saya. Kami kemudian membagi tugas untuk membawa barang-barang yang perlu dibawa, juga dengan makanan. Saya cukup beruntung karena tidak perlu membawa banyak barang, saya hanya membawa lampu badai dan terpal. Cukup banyak yang saya harus persiapkan, misalnya carrier dan perlengkapan pribadi lainnya. Namun, saya dapat memperolehnya pada hari Sabtu, 8 November 2008, dan mulai menyusun barang-barang bawaan saya.
Tiba saatnya hari yang ditentukan, tanggal 11 November 2008. Saya diantar oleh ayah sampai ke sekolah. Biasanya saya pergi sendiri, namun banyak yang saya bawa dan ribet, sehingga harus diantar sampai ke sekolah. Ketika saya datang, sudah ada beberapa orang yang menunggu di dalam sekolah. Saya sempat bercakap-cakap dan bersenda gurau dengan mereka. Setelah itu, saya dan anggota kelopok yang lainnya berkumpul dan mulai mengecek barang-barang yang diperlukan. Terasa sekali keakraban yang mulai terbentuk diantara kami dalam kegiatan tersebut. Kami kemudian diberikan sedikit pengarahan oleh panitia dan para guru. Setelah itu, kami mulai membawa barang-barang tersebut ke truk dan masuk ke dalam bus.
Sebentar di dalam bus, saya langsung tertidur lelap. Saya terbangun di daerah Cikampek, karena bus berhenti di tempat peristirahatan. Setelah itu, saya diberikan makan siang. Kami tiba di kawasan Gunung Puntang kira-kira jam 1 siang. Keadaan udara di tempat tersebut dingin, meskipun pada saat tengah hari. Kami kemudian menuju ke wilayah pekemahan dan mengikuti upacara pembukaan. Setelah upacara kami mulai membereskan barang-barang bawaan kami dan mulai mendirikan tenda. Beberapa diantara anggota kelompok kami mulai memasak makanan. Saat-saat mendirikan tenda dan memasak makanan semakin mengakrabkansaya denagn anggota kelompok, dan juga kepada orang lain. Kami makan dengan lahapnya, tiba-tiba hujan turun denagn derasnya. Kami segera memasukkan bahan makanan dan perlengkapan masak ke dalam tenda. Saya pun masuk ke dalam tenda bersama teman saya, Made dan Angga. Keadaan berubah drastis, udara terasa sangat dingin, dan angin berhembus dengan kencangnya.
Kami hanya tiduran di dalam tenda menunggu hujan reda sambil bercakap-cakap. Air hujan mulai masuk ke dalam tenda kami dan membuat panik. Tas dan barang-barang mulai basah. Saya meletakkan ponco atau jas hujan untuk melindunginya, dan itu berhasil. Setelah beberapa lama kemudian, hujan berhenti. Kami membereskan terpal yang ada di luar tenda bersama-sama. Setelah itu, kami menghadiri misa malam sebelum tidur. Kami tidur kurang lebih 3 jam, kemudian seluruh anggota kelompok kami dibangunkan untuk mengikuti jurit malam. Kami disuruh membawa 6 senter dan memakai sandal gunung. Memang tidak hujan lagi, namun keadaan sangat dingin dan angin berhembus dengan cukup kencang. Setelah melewati beberapa rintangan seperti mencari mata, kalung, tangan, dan merefleksikan arti sahabat, kami dapat menyelesaikan jalur jurit malam ini. Saya juga memperoleh pengetahuan mengenai sejarah dari Gunung Puntang ini. Namun ada kejadian yang aneh, dua kelompok sebelum kelompok kami, yaitu kelompok 15 dan kelompok 16 menghilang dan tersesat dari jalur jurit malam. Setelah tiba di lapangan utama kami disuruh untuk berkumpul masing-masing kelompok. Kemudian kami disuruh untuk kembali ke tenda dan tidur. Kelompok yang lain tidak memperoleh giliran untuk jurit malam, karena kejadian tersebut. Kurang lebih jam 1 malam, kelompok 15 dan kelompok 16 tersebut kembali ke basecamp.
Paginya, kelompok kami mulai bergegas untuk melakukan aktivitas. Mulai dari mencuci peralatan masak dan perlengkapan makan. Setelah itu kami mulai memasak lagi, dan makan. Kira-kira jam 9 pagi, acara hiking dimulai. Kelompok saya memperoleh jatah di akhir-akhir. Saya memutuskan untuk tidur dalam tenda untuk mengisi tenaga. Kira-kira jam 11, kelompok kami mulai mengikuti acara hiking. Setelah melewati pos 1, dengan rintangan memindahkan bola serta pos 2 yaitu menebak nama teman dari suaranya, kami terpaksa harus kembali ke basecamp. Ini disebabkan karena jalur hiking menjadi berbahaya akibat hujan yang terjadi sebelumnya. Kami tiba di basecamp kira-kira jam 1 siang. Setelah tiba, kami makan dan beristirahat sebentar untuk kemudian kembali mengikuti hiking dengan jalur yang berbeda. Kali ini, cuaca masih mendung dan hujan rintik-rintik menyertai perjalanan kami. Setelah beberapa lama berjalan, kami kemudian merasakan dinginnya air sungai di Gunung Puntang. Sungainya deras dan banyak batu-batuan besar, namun air sungai tersebut masih terjaga dan sangat bersih. Di perjalanan pulang menuju kemah, saya dan beberapa teman mencoba untuk mandi di sungai. Ini merupakan pengalaman pertama saya, dan saya sangat menikmatinya. Kira-kira jam 5 sore, saya kembali ke tenda dan mulai memasak untuk makan malam. Kami makan malam dengan lahap setelah beraktivitas seharian dan sangat menguras tenaga. Setelah itu, kami berlatih untuk mengisi acara pada api unggun malam harinya. Kelompok kami mendapatkan kesempatan untuk dance. Setelah berdiskusi, kami setuju untuk membawakan tari kecak.
Pada saat api unggun, keadaan sangat dingin. Banyak acara yang ditampilkan oleh kelompok lain dan sangat menghibur. Ketika saatnya saya pentas, saya dapat mengikutinya dengan baik. Setelah itu, kami menyaksikan drama mengenai sejarah Gunung Puntang yang dibawakan oleh beberapa anak yang terpilih sebelumnya. Setelah itu, acara api unggun pun berakhir, kami kembali ke tenda masing-masing untuk tidur.
Esok paginya, kami kembali melaksanakan aktivitas kami seperti hari-hari sebelumnya. Mencuci peralatan masak dan memasak makanan serta makan mejadi kegiatan kami selanjutnya. Hari ini sudah tidak ada kegiatan lagi, saya merapikan barang-barang bawaan dan tenda. Saya juga membersihkan lingkungan di sekitar tenda dan kawasan Gunung Puntang dalam kegiatan bersih gunung.
Saya dan anggota kelompok lainnya membawa barang-barang kami ke lapangan utama. Kami mengikuti upacara penutupan yang dilaksanakan untuk menutup Jamore ke 23 ini. Perasaan saya cukup sedih karena harus meninggalkan daerah Gunung Puntang yang sekaligus mengakhiri pengalaman saya, namun di sisi lain saya senang karena daat kembali bertemu orang tua dan melanjutkan kegiatan saya biasanya. Kami semua masuk ke dalam bus kira-kira jam 12 dan kembali ke Jakarta. Kami tiba di Kanisius jam setengah 5 sore. Di perjalanan, kami sempat mampir di Purwakarta untuk membeli oleh-oleh. Setelah menurunkan barang-barang bawaan saya, saya kemudian menunggu ayah saya di dalam sekolah, saya duduk di tribun lapangan sepakbola. Kemudian, ayah saya datang jam 6, dan saya pulang kembali ke rumah.
Jambore ini tak akan pernah saya lupakan, dan akan menjadi teladan bagi hidup saya menuju hari yang lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)