Ini adalah jambore pertama dan terakhir saya dalam belajar di SMA Kanisius. Pekan sosial tahun 2008 ini, saya memilih untuk mengikuti kegiatan jambore dari antara Live In Desa dan Live In Kota. Saya memilih mengikuti Jambore karena saya sudah pernah mengikuti Live In dan mencoba tantangan yang baru. Jambore tahun ini adalah Jambore yang ke dua puluh tiga. Jambore ini diadakan di kawasan Gunung Puntang, Bandung Selatan.
Dari awal sosialisasi Jambore, saya sudah sangat tertarik dan ingin sekali ikut serta di dalamnya. Setelah mendaftarkan diri, saya mengikuti beberapa pertemuan untuk mempersiapkan hal tersebut. Dalam kegiatan Jambore ini, saya tergabung ke dalam kelompok 17. Setelah bertemu dengan teman-teman sekelompok, kami saling berkenalan. Awalnya memang agak aneh, saya tidak mengenal mereka satu pun kecuali Made, teman saya. Kami kemudian membagi tugas untuk membawa barang-barang yang perlu dibawa, juga dengan makanan. Saya cukup beruntung karena tidak perlu membawa banyak barang, saya hanya membawa lampu badai dan terpal. Cukup banyak yang saya harus persiapkan, misalnya carrier dan perlengkapan pribadi lainnya. Namun, saya dapat memperolehnya pada hari Sabtu, 8 November 2008, dan mulai menyusun barang-barang bawaan saya.
Tiba saatnya hari yang ditentukan, tanggal 11 November 2008. Saya diantar oleh ayah sampai ke sekolah. Biasanya saya pergi sendiri, namun banyak yang saya bawa dan ribet, sehingga harus diantar sampai ke sekolah. Ketika saya datang, sudah ada beberapa orang yang menunggu di dalam sekolah. Saya sempat bercakap-cakap dan bersenda gurau dengan mereka. Setelah itu, saya dan anggota kelopok yang lainnya berkumpul dan mulai mengecek barang-barang yang diperlukan. Terasa sekali keakraban yang mulai terbentuk diantara kami dalam kegiatan tersebut. Kami kemudian diberikan sedikit pengarahan oleh panitia dan para guru. Setelah itu, kami mulai membawa barang-barang tersebut ke truk dan masuk ke dalam bus.
Sebentar di dalam bus, saya langsung tertidur lelap. Saya terbangun di daerah Cikampek, karena bus berhenti di tempat peristirahatan. Setelah itu, saya diberikan makan siang. Kami tiba di kawasan Gunung Puntang kira-kira jam 1 siang. Keadaan udara di tempat tersebut dingin, meskipun pada saat tengah hari. Kami kemudian menuju ke wilayah pekemahan dan mengikuti upacara pembukaan. Setelah upacara kami mulai membereskan barang-barang bawaan kami dan mulai mendirikan tenda. Beberapa diantara anggota kelompok kami mulai memasak makanan. Saat-saat mendirikan tenda dan memasak makanan semakin mengakrabkansaya denagn anggota kelompok, dan juga kepada orang lain. Kami makan dengan lahapnya, tiba-tiba hujan turun denagn derasnya. Kami segera memasukkan bahan makanan dan perlengkapan masak ke dalam tenda. Saya pun masuk ke dalam tenda bersama teman saya, Made dan Angga. Keadaan berubah drastis, udara terasa sangat dingin, dan angin berhembus dengan kencangnya.
Kami hanya tiduran di dalam tenda menunggu hujan reda sambil bercakap-cakap. Air hujan mulai masuk ke dalam tenda kami dan membuat panik. Tas dan barang-barang mulai basah. Saya meletakkan ponco atau jas hujan untuk melindunginya, dan itu berhasil. Setelah beberapa lama kemudian, hujan berhenti. Kami membereskan terpal yang ada di luar tenda bersama-sama. Setelah itu, kami menghadiri misa malam sebelum tidur. Kami tidur kurang lebih 3 jam, kemudian seluruh anggota kelompok kami dibangunkan untuk mengikuti jurit malam. Kami disuruh membawa 6 senter dan memakai sandal gunung. Memang tidak hujan lagi, namun keadaan sangat dingin dan angin berhembus dengan cukup kencang. Setelah melewati beberapa rintangan seperti mencari mata, kalung, tangan, dan merefleksikan arti sahabat, kami dapat menyelesaikan jalur jurit malam ini. Saya juga memperoleh pengetahuan mengenai sejarah dari Gunung Puntang ini. Namun ada kejadian yang aneh, dua kelompok sebelum kelompok kami, yaitu kelompok 15 dan kelompok 16 menghilang dan tersesat dari jalur jurit malam. Setelah tiba di lapangan utama kami disuruh untuk berkumpul masing-masing kelompok. Kemudian kami disuruh untuk kembali ke tenda dan tidur. Kelompok yang lain tidak memperoleh giliran untuk jurit malam, karena kejadian tersebut. Kurang lebih jam 1 malam, kelompok 15 dan kelompok 16 tersebut kembali ke basecamp.
Paginya, kelompok kami mulai bergegas untuk melakukan aktivitas. Mulai dari mencuci peralatan masak dan perlengkapan makan. Setelah itu kami mulai memasak lagi, dan makan. Kira-kira jam 9 pagi, acara hiking dimulai. Kelompok saya memperoleh jatah di akhir-akhir. Saya memutuskan untuk tidur dalam tenda untuk mengisi tenaga. Kira-kira jam 11, kelompok kami mulai mengikuti acara hiking. Setelah melewati pos 1, dengan rintangan memindahkan bola serta pos 2 yaitu menebak nama teman dari suaranya, kami terpaksa harus kembali ke basecamp. Ini disebabkan karena jalur hiking menjadi berbahaya akibat hujan yang terjadi sebelumnya. Kami tiba di basecamp kira-kira jam 1 siang. Setelah tiba, kami makan dan beristirahat sebentar untuk kemudian kembali mengikuti hiking dengan jalur yang berbeda. Kali ini, cuaca masih mendung dan hujan rintik-rintik menyertai perjalanan kami. Setelah beberapa lama berjalan, kami kemudian merasakan dinginnya air sungai di Gunung Puntang. Sungainya deras dan banyak batu-batuan besar, namun air sungai tersebut masih terjaga dan sangat bersih. Di perjalanan pulang menuju kemah, saya dan beberapa teman mencoba untuk mandi di sungai. Ini merupakan pengalaman pertama saya, dan saya sangat menikmatinya. Kira-kira jam 5 sore, saya kembali ke tenda dan mulai memasak untuk makan malam. Kami makan malam dengan lahap setelah beraktivitas seharian dan sangat menguras tenaga. Setelah itu, kami berlatih untuk mengisi acara pada api unggun malam harinya. Kelompok kami mendapatkan kesempatan untuk dance. Setelah berdiskusi, kami setuju untuk membawakan tari kecak.
Pada saat api unggun, keadaan sangat dingin. Banyak acara yang ditampilkan oleh kelompok lain dan sangat menghibur. Ketika saatnya saya pentas, saya dapat mengikutinya dengan baik. Setelah itu, kami menyaksikan drama mengenai sejarah Gunung Puntang yang dibawakan oleh beberapa anak yang terpilih sebelumnya. Setelah itu, acara api unggun pun berakhir, kami kembali ke tenda masing-masing untuk tidur.
Esok paginya, kami kembali melaksanakan aktivitas kami seperti hari-hari sebelumnya. Mencuci peralatan masak dan memasak makanan serta makan mejadi kegiatan kami selanjutnya. Hari ini sudah tidak ada kegiatan lagi, saya merapikan barang-barang bawaan dan tenda. Saya juga membersihkan lingkungan di sekitar tenda dan kawasan Gunung Puntang dalam kegiatan bersih gunung.
Saya dan anggota kelompok lainnya membawa barang-barang kami ke lapangan utama. Kami mengikuti upacara penutupan yang dilaksanakan untuk menutup Jamore ke 23 ini. Perasaan saya cukup sedih karena harus meninggalkan daerah Gunung Puntang yang sekaligus mengakhiri pengalaman saya, namun di sisi lain saya senang karena daat kembali bertemu orang tua dan melanjutkan kegiatan saya biasanya. Kami semua masuk ke dalam bus kira-kira jam 12 dan kembali ke Jakarta. Kami tiba di Kanisius jam setengah 5 sore. Di perjalanan, kami sempat mampir di Purwakarta untuk membeli oleh-oleh. Setelah menurunkan barang-barang bawaan saya, saya kemudian menunggu ayah saya di dalam sekolah, saya duduk di tribun lapangan sepakbola. Kemudian, ayah saya datang jam 6, dan saya pulang kembali ke rumah.
Jambore ini tak akan pernah saya lupakan, dan akan menjadi teladan bagi hidup saya menuju hari yang lebih baik.
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Selasa, 18 November 2008
Jumat, 24 Oktober 2008
Disayangkan Busway Ditawarkan ke Asing
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organda menyayangkan langkah Pemprov DKI Jakarta yang berniat mencari investor asing untuk mengembangkan sistem operasional lima koridor baru busway.
Undang investor asing tidak akan menyelesaikan persoalan pengelolaan busway yang kian tidak karauan sejauh environment usaha yang diciptakan Pemrov DKI Jakarta tidak kondusif. Ketua Bidang Prasarana dan Angkutan DPP Organda Rudi Thehamihardja mengemukakan hal itu di Jakarta, Jumat (24/10).
Ia menanggapi langkap Pemprov yang Kamis kemarin menawarkan pengembangan sistem operasional lima koridor busway itu kepada para investor asing yang hadir dalam Forum Bisnis Jakarta (Jakarta Business Forum) bertema Invest Jakarta 2008. Forum tersebut antara lain dihadiri oleh investor dari Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, RRC, India, dan Australia.
Menurut Rudi, investor lokal bukannya tidak mampu memiliki kinerja seperti asing. Namun, lingkungan usaha, di mana masih ada pungli dan tidak ada transparansi, membuat pemilik modal lokal jadi tampak tidak tertarik untuk menanam modal atau tidak bisa menunjukkan kinerja yang maksimal .
"Jangan hanya mau kinerja seperti asing tapi enviroment usahanya masih Indonesia. Pungli marak, sesuai kesepakatan tender bus jalan 300 km per hari, tapi yang terjadi hanya 200 km," kata Rudi.
Lima koridor baru yang hendak ditawarkan ke asing itu adalah koridor XI (Pulogebang-Kampung Melayu), XII (Pluit-Tanjungpriok), XIII (Pondok Kelapa-Blok M), XIV (UI-Manggarai), dan XV (Ciledug-Blok M). Saat ini Pemprov DKI Jakarta telah mengoperasikan tujuh koridor busway, tiga koridor lainya, yaitu koridor VIII, IX dan X telah selesai pengerjaan infrastruknya, tetapi pengadaan bus masih dalam proses lelang. Berdasarkan rencana semula, tiga koridor terakhir itu seharusnya sudah beroperasi pada September.
Undang investor asing tidak akan menyelesaikan persoalan pengelolaan busway yang kian tidak karauan sejauh environment usaha yang diciptakan Pemrov DKI Jakarta tidak kondusif. Ketua Bidang Prasarana dan Angkutan DPP Organda Rudi Thehamihardja mengemukakan hal itu di Jakarta, Jumat (24/10).
Ia menanggapi langkap Pemprov yang Kamis kemarin menawarkan pengembangan sistem operasional lima koridor busway itu kepada para investor asing yang hadir dalam Forum Bisnis Jakarta (Jakarta Business Forum) bertema Invest Jakarta 2008. Forum tersebut antara lain dihadiri oleh investor dari Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, RRC, India, dan Australia.
Menurut Rudi, investor lokal bukannya tidak mampu memiliki kinerja seperti asing. Namun, lingkungan usaha, di mana masih ada pungli dan tidak ada transparansi, membuat pemilik modal lokal jadi tampak tidak tertarik untuk menanam modal atau tidak bisa menunjukkan kinerja yang maksimal .
"Jangan hanya mau kinerja seperti asing tapi enviroment usahanya masih Indonesia. Pungli marak, sesuai kesepakatan tender bus jalan 300 km per hari, tapi yang terjadi hanya 200 km," kata Rudi.
Lima koridor baru yang hendak ditawarkan ke asing itu adalah koridor XI (Pulogebang-Kampung Melayu), XII (Pluit-Tanjungpriok), XIII (Pondok Kelapa-Blok M), XIV (UI-Manggarai), dan XV (Ciledug-Blok M). Saat ini Pemprov DKI Jakarta telah mengoperasikan tujuh koridor busway, tiga koridor lainya, yaitu koridor VIII, IX dan X telah selesai pengerjaan infrastruknya, tetapi pengadaan bus masih dalam proses lelang. Berdasarkan rencana semula, tiga koridor terakhir itu seharusnya sudah beroperasi pada September.
Operasi Massal Bibir Sumbing
Jumat, 24 Oktober 2008 | 14:51 WIB
JAKARTA,JUMAT-Sebanyak 27 pasien menderita penyakit bibir sumbing dan mikrotia mendapatkan pengobatan gratis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Jumat (24/10).
Pengobatan ini menjadi bagian kepedulian dalam bakti sosial yang dilakukan oleh dokter-dokter bagian bedah plastik kraniofasial RSCM bersama dokter-dokter dari Chang Gung Craniofacial Center, Taiwan. Bakti sosial ini juga mengobati penderita dengan mikrotia, yakni penderita dengan kelainan bawaan lahir berupa daun telinga yang kecil.
Operasi bibir sumbing serta operasi pembuatan daun telinga membutuhkan 33 prosedur untuk mendapatkan hasil yang optimal. "Tim dokter bekerja secara terpadu, melibatkan Speech pathologist, speech therapist dan Orthodontist," kata Dr Enrina Diah, dokter ahli bedah plastik Kraniofasial RSCM . "Sehingga anak-anak yang telah dioperasi benar-benar dapat beradaptasi dan memaksimalkan kemampuan bicaranya," tambahnya disela-sela jumpa pers di ruang Djamaludin, Jakarta, Jumat (24/10).
Dari pantauan Kompas.com, pasien yang dioperasi berumur 6 bulan - 30 tahun. Semuanya berasal dari keluarga kurang mampu yang datang dari Bogor, Jakarta dan ada yang berasal dari Makassar.
Beberapa pasien saat ditemui merasa bahagia bisa ikut pengobatan gratis ini seperti yang dikatakan Marhali (42). "Alhamdulillah banget anak saya si-Rifansyah bisa dioperasi gratis. Meskipun gratis, pelayanannya tetap bagus, kami tidak menyangka," katanya sambil kedua tangannya mengusap-usap dahi anaknya yang masih berumur tiga tahun.
Hal senada juga dikatakan oleh Atma (22), warga Bojong Gede, Bogor yang datang bersama suaminya. "Amin ya raobbal Allamin anak saya bisa sembuh. Sebetulnya ini operasi yang kedua, yang pertama bulan Desember kemarin operasi bibir yang diadakan oleh salah satu program televisi di Indonesia, sekarang anak saya dioperasi langitnya," katanya.
Selain mengadakan kegiatan amal, RSCM dalam waktu dekat akan segera membuka pusat layanan khusus kraniofasial. Layanan ini akan terintegrasi menjadi satu atap sehingga memudahkan penderita mendapatkan pelayanan prima dari Rumah Sakit yang menjadi rujukan nasional.
JAKARTA,JUMAT-Sebanyak 27 pasien menderita penyakit bibir sumbing dan mikrotia mendapatkan pengobatan gratis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Jumat (24/10).
Pengobatan ini menjadi bagian kepedulian dalam bakti sosial yang dilakukan oleh dokter-dokter bagian bedah plastik kraniofasial RSCM bersama dokter-dokter dari Chang Gung Craniofacial Center, Taiwan. Bakti sosial ini juga mengobati penderita dengan mikrotia, yakni penderita dengan kelainan bawaan lahir berupa daun telinga yang kecil.
Operasi bibir sumbing serta operasi pembuatan daun telinga membutuhkan 33 prosedur untuk mendapatkan hasil yang optimal. "Tim dokter bekerja secara terpadu, melibatkan Speech pathologist, speech therapist dan Orthodontist," kata Dr Enrina Diah, dokter ahli bedah plastik Kraniofasial RSCM . "Sehingga anak-anak yang telah dioperasi benar-benar dapat beradaptasi dan memaksimalkan kemampuan bicaranya," tambahnya disela-sela jumpa pers di ruang Djamaludin, Jakarta, Jumat (24/10).
Dari pantauan Kompas.com, pasien yang dioperasi berumur 6 bulan - 30 tahun. Semuanya berasal dari keluarga kurang mampu yang datang dari Bogor, Jakarta dan ada yang berasal dari Makassar.
Beberapa pasien saat ditemui merasa bahagia bisa ikut pengobatan gratis ini seperti yang dikatakan Marhali (42). "Alhamdulillah banget anak saya si-Rifansyah bisa dioperasi gratis. Meskipun gratis, pelayanannya tetap bagus, kami tidak menyangka," katanya sambil kedua tangannya mengusap-usap dahi anaknya yang masih berumur tiga tahun.
Hal senada juga dikatakan oleh Atma (22), warga Bojong Gede, Bogor yang datang bersama suaminya. "Amin ya raobbal Allamin anak saya bisa sembuh. Sebetulnya ini operasi yang kedua, yang pertama bulan Desember kemarin operasi bibir yang diadakan oleh salah satu program televisi di Indonesia, sekarang anak saya dioperasi langitnya," katanya.
Selain mengadakan kegiatan amal, RSCM dalam waktu dekat akan segera membuka pusat layanan khusus kraniofasial. Layanan ini akan terintegrasi menjadi satu atap sehingga memudahkan penderita mendapatkan pelayanan prima dari Rumah Sakit yang menjadi rujukan nasional.
Langganan:
Postingan (Atom)