Jumat, 12 September 2008

Bulan Ramadhan, Jalanan Jakarta Sepi

Seminggu sudah ramadhan berlangsung di seluruh lapisan masyarakat Indonesia, yang mayoritas beragama islam. Ramadhan adalah sebuah bulan yang merupakan sebuah persiapan iman atau batin menuju sebuah hari, yaitu hari Idul Fitri atau hari kemenangan. Selama bulan ini, seluruh umat islam menahan diri dari segala nafsu melalui berpuasa fisik (tidak makan atau minum) dan berbuat tindakan-tindakan yang dianjurkan oleh agama.

Ramadhan memang berpengaruh sangat besar, salah satunya adalah kebiasaan masyarakat. Dapat kita lihat, bahwa jalanan di kota-kota besar, seperti Jakarta menjadi lebih sepi. Hal ini terjadi karena para pekerja atau pegawai diberikan sedikit kebebasan dalam bekerja oleh instansi atau sejumlah perusahaan. Mereka berangkat kerja menjadi “lebih siang” dan pulang kerja “lebih pagi”. Selain berpengaruh kepada jam kerja yang berkurang, dan produktivitas kerja yang menurun, bulan ramadhan juga membuat jalanan menjadi sepi.

Jalanan memang menjadi sepi, karena berkurangnya pengguna angkutan ataupun kendaraan pribadi yang disebabkan bergesernya jam berangkat dan pulang kantor. Namun di sisi lain, sepi yang saya maksud adalah sepi dari kata-kata kasar yang biasa diucapkan. Seringkali saya mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut pengguna jalan yang tidak puas akan keadaan jalanan, salah satunya masalah klasik di kota Jakarta, yaitu kemacetan. Para pengguna jalan sering mengucapkan kata-kata kasar sebagai pelampiasan mereka terhadap kemacetan, maupun penyebab kemacetan itu sendiri, misalnya kendaraan lain yang mogok, atau matinya lampu lalu lintas. Para pengemudi berkata kasar kepada supir bus yang memotong jalurnya, pengendara motor yang berkata kasar terhadap pengendara lainnya yang menghalangi jalan mereka, dan masih banyak yang lain.

Bulan Ramadhan ini membuat jalanan menjadi sepi dari kata-kata kasar, saya melihat dan merasakannya sendiri. Jumlah ucapan kasar di jalanan berkurang drastis saat ramadhan dibandingkan waktu-waktu lain diluar ramadhan. Kebiasaan buruk ini berhasil dikurangi dengan adanya norma agama yang melarang orang untuk mengucapkan kata kasar, khususnya di dalam bulan ramadhan.

Tapi hal ini patut kita sayangkan, pada waktu-waktu lain, semisal setelah ramadhan, kebiasaan buruk berkata kasar akan kembali menggema di jalanan. Kata-kata kasar ini akan kembali akrab bagi para pengguna jalan. Mungkin ini adalah salah satu contoh rendahnya moral bangsa ini, karena masyarakatnya tidak mampu mengontrol diri mereka. Namun, apakah kita hanya menyalahkan masyarakat saja tanpa berpikir bahwa pemerintah belum memberikan suatu pelayanan yang maksimal bagi pengguna jalan. Memang masalah di bangsa ini sangat kompleks, mulai dari korupsi, kesenjangan sosial, ketidakadilan, harga barang-barang yang meroket, hingga ketidakmampuan pemerintah memberikan sebuah pelayanan yang memadai.

Semoga suatu saat nanti, bangsa ini dapat menjadi bangsa yang mampu mengontrol diri, emosi, dan mampu menghargai orang lain, tanpa memandang dia adalah supir angkutan, pengendara motor, atau pemilik mobil mewah. Semuanya saling menghormati di dalam segala aspek kehidupan, termasuk saat di jalan.

Tidak ada komentar: